Cerpen Mayshiza Widya*
"Selamat malam, Ene! Gaunmu indah, kau tampak anggun", puji Gray di
pesta dansa malam itu. Kami baru kenal lima menit yang lalu. Aku
tersanjung, tersipu, wajahku sedikit memerah. Gray mengulurkan
tangannya, dan aku menyambutnya dengan bangga. Digapitnya tanganku yang
dingin di atas pundaknya, dan kedua tangan Gray melingkar di
pinggangku. Kami bergoyang mengikuti alunan musik, ke kanan dan ke kiri.
Dadanya yang lapang menyentuh lembut dadaku. Kurasakan detak jantungnya
berhitung. Satu-satu. Bahkan aroma nafasnya menyerengak di hidungku.
"Ene,
setelah pesta dansa ini. Maukah kamu berkencan denganku?", bisik Gray
pelan, cukup terdengar. Aku tersentak, darahku berpacu, mengalir kian
derasnya, syaraf-syaraf di otakku mulai tegang. Mulutku tetap diam
terkatup, meski Gray mengulangi kalimat itu dua kali. Dia makin erat
memelukku, nafasku terengah, namun entah… seolah aku menikmatinya, dan
kubiarkan tangannya meraup seluruh tubuhku. Ia mulai berani menggigit
leherku dengan mesra, aku menggeliat, merintih, dan Gray malah tertawa.
Menit
berikutnya, ia menarik lenganku keluar dari pesta dansa menuju sebuah
ruangan kecil. Padahal pesta dansa belum usai. Kulihat gairah membara
dalam diri Gray, di ruang pengap yang tertutup itu aku terpojok. Mata
Gray menyala, menimbulkan kobar dan membakar seluruh jiwaku. Jari-jari
lentiknya meraba pahaku, dan menyibak rok miniku. Bibirnya menyentuh
bibirku lembut. Ia semakin berani menunjukkan kejantanannya dengan
membuka sedikit kancing bajuku, dan kami pun ...
Aku makin tak kuasa
dibuatnya, imajinasiku terbang melambung, kami seolah menjadi satu. Aku
adalah Gray, Gray adalah aku. Kami berdua melayang tuk menggapai
kepuasan dunia yang fana. Sekalipun ini adalah kencan pertamaku, dan
meski sesaat kami cukup menikmatinya. Kemudian segera kurapikan
dandananku dan kembali ke ruang dansa. Gray mengikutiku dari belakang,
seolah tak terjadi apapun. Aku berbincang dengan Elis dan Prita di ujung
bartender. Mereka menuangkan segelas wine, dan aku meneguknya. Kulirik
Gray, di ujung meja yang lain bersama Freud. Ia tertawa lepas, kepuasan
jelas terpancar dari rona wajahnya.
***
Sejak malam itu, aku tak
lagi bertemu muka dengan Gray. Malam yang menegangkan dan mengharu biru
itu tak akan terulang. Kini aku tengah duduk di altar sebuah paviliun,
lengkap dengan rumput dan bunga kamboja. Menyaksikan guratan demi
guratan yang diukir oleh hujan yang tak begitu deras membasah.
Aku
hanya bisa menikmati kehancuran ini, aku seakan terbang di atas awan,
tak tahu ke mana harus melangkah dan tak berani menyeberang ke kanan
atau ke kiri. Atau bagai seorang peziarah yang lelah, yang bereforia
mendapatkan sekantung air zam-zam. Ahhh… tidak, aku terlalu hina untuk
diibaratkan demikian. Hidupku hancur sejak Gray dengan brutalnya
menggerayangiku. Kehidupan keluargaku berantakan, menjadi anak tunggal
dari keluarga yang broken adalah mimpi buruk, aku ingin segera terbangun
dan terjaga dari tidurku, tapi terlambat. Aku pun di D.O dari
Universitas karena tak pernah masuk kuliah. Masa depanku kini suram.
Sementara itu, virginitasku tergadai untuk sebuah kepuasan busuk. Sesal
pun terasa percuma. Jika sudah demikian, apa yang mampu kulakukan?
Tuhan…
yach, nama itu jarang sekali kusebut, bahkan hampir tidak pernah. Tapi
apakah Dia mau mengampuniku? Kurasa Dia pun telah muak melihat ulahku.
Biar saja kunikmati kehancuran ini. Aku sudah telanjur rusak, jadi mau
apa lagi?
"Ene, apa yang kau lamunkan?", tanya Mike, teman kencanku
yang baru, dua bulan terakhir. Aku menggeleng, mencoba menawarkan seulas
senyum yang sedikit kupaksakan. Kumatikan puntung rokokku. Kulihat ia
mengambilkanku sepotong biskuit dan segelas orange juice. Aku meraihnya,
meneguk orange juice buatannya, membiarkan kerongkonganku basah untuk
sesaat. Tiba-tiba perutku malah mual, mendadak ingin muntah, tapi
kutahan.
"Jika kau mau, orangtuaku akan datang minggu depan untuk
melamar!", ujarnya memecah hening. Aku masih terlalu muda untuk sebuah
ikatan perkawinan. Tapi aku tak akan mengelak jika ia menghendaki
demikian. Lagi pula, aku tak akan begitu ambil pusing dengan hidup
berumah tangga dengan Mike. Dia yang akan mengatur segalanya. Dan aku?
Hanya tinggal duduk, bersantai, menunggu laporan selayaknya bos.
Sejenak
wajah Gray muncul di hadapku, tawanya… gairah seksualnya… aroma
tubuhnya… sulit terlupa dari benak dan fikiranku. Aku kesepian. Terluka.
Sejak awal pun aku tahu bahwa hubungan kami adalah sebuah kesalahan. Ia
seorang suami dan ayah dari seorang anak laki-laki bernama Yugas. Aku
juga telah prediksikan, jika akhirnya akan seperti ini. Tapi aku masih
beruntung, mungkin karena aku masih memiliki Mike yang mau menerimaku
apa adanya. Yang mencintaiku tanpa cacat. Kurasa, aku harus belajar
melupakan Gray dan sesedikit mungkin mencintai Mike. Kasihan ia…
"Ene,
kau baik-baik saja?", Mike sedikit menghawatirkanku. Ia memang seorang
lelaki yang penuh kebapakan, bijaksana, dan pengayom. Wajar saja, karena
usia kami terpaut 10 tahun. Mike memang tipikal suami yang ideal,
betapa pun demikian gairah seksualku menurun semenjak berhubungan
dengannya. Kami lebih banyak bicara dibandingkan bermain cinta. Aku
tersenyum kecut dan kembali kuteguk minuman di tanganku.
***
Aku
akan menikah, Mike keberatan jika kami harus bertunangan terlebih
dahulu. Ia merasa sudah terlalu tua untuk menunggu. Undangan sudah di
sebar, gaun pengantin, kue pengantin, gedung resepsi, cincin berlian,
hidangan pesta, semua telah dipesan. Bahkan tak terkecuali dengan
honeymoon ke Eropa. Semua sengaja dipilih sesuai seleraku.
Aku
bertekad untuk memulai kehidupanku yang baru. Untuk kembali menjadi
wanita normal seperti yang lain. Melupakan harapan bodoh untuk merebut
suami orang. Oleh Mike, aku diajari bagaimana harus sholat dan mengaji.
Dan hari ini, kami menikah. Kukenakan gaun pengantinku dan mengikrarkan
akad nikah dengan Mike. Hampir tak kupercaya, mulai detik ini aku telah
dinobatkan menjadi seorang istri.
Pesta pernikahan kami begitu
meriah. Kawan dan kerabat dekat juga tampak hadir. Elis dan Prita,
sahabat karibku turut membantu kami menjamu tamu undangan. Sesaat
kudapati seraut wajah yang tak asing, wajah yang telah sekian lama
terkubur bersama kenangan, wajah yang sempat mengayuh rindu yang
mengakar. Kini ia ada dihadapku, mata itu… masih menyorot tajam, setajam
belati yang siap setiap waktu mengulitiku. Aku masih diam, tak
bergerak, menatapnya lekat, ternyata tak banyak yang berubah, ia masih
seperti yang dulu, masih sama seperti Gray yang telah mencumbuku malam
itu, ia tetap tampan, aku tak berhenti menatapnya, tak berkedip.
"Ene,
congratulation!", ucapnya, hendak menjabat tanganku. Aku hampir tak
mempercayai penglihatanku, namun aku berusaha untuk tetap bersikap
senatural mungkin. Meski sedikit kaku, kucoba kulum seulas senyum.
Biarlah kenangan tetap menjadi kenangan, manis atau pun getir. Karena
kita tidak pernah tahu, apa yang akan kita dapat di hari esok.
*Pernah dimuat di majalah Paradigma

Tidak ada komentar:
Posting Komentar