Oleh : Mayshiza Widya
Ibu pernah bercerita tentang tetangga Bulek di kota yang bunting duluan
sebelum menikah. Eh, hamil. Saat itu aku tak memberi komentar apa-apa,
hanya tertawa sengit. Karena ekspresi itu bisa bermakna ganda.
Kemungkinan pertama, aku dianggap menertawakan kebodohan mereka yang
kecolongan. Kok bisa sih sidah banyak beredar “pengaman”, tapi tetep
bocor juga.
Kemungkinan yang kedua, aku turut bahagia atas keberhasilan mereka memproduksi anak. He…he…he…
“Hei, kok bengong?”.
“Nggak, aku hanya ingat ibu”.
“Emang ada apa?”.
“Aku sedang gelisah, mas. Sudah beberapa hari ini aku telat”.
“Telat ke kantor? Tapi nggak sampai dipecat sama bosmu’kan?”.
“Bukan telat yang itu, tapi telat menstruasi!”.
“Apa? Kok bisa?”.
“Kok bisa katamu? Harusnya aku yang bertanya”.
“Aku belum mau punya anak!”.
“Kau pikir aku mau? Aku belum menikah, mana mungkin aku mau punya anak?”.
“Kalau kamu bunting beneran, kita gugurkan saja”.
“Apa? Itu namanya kamu nggak bertanggungjawab”.
“Pertanggungjawaban yang bagaimana yang kamu minta? Mengawinimu? Itu gila!”.
“kenapa gila? Bukankah sewajarnya kalau kamu mengawiniku. Aku bunting juga karenamu, mas!”.
“Karenaku?”.
“Ya, itu ulahmu!”.
“Ulahmu juga’kan?”.
“Aku nggak mau membunuh anak ini”
“Tidak ada pilihan lain”.
“Tapi aku tak pernah bunuh orang, apalagi dia anakku, darah dagingmu, buah cinta kita!”.
“Cinta? Bulshiit… kalau kamu mencintaiku, kita gugurkan sebelum dia tumbuh besar dalam rahimmu!”.
***
“Bagaimana kesehatanmu, sudah baikan?”.
“Lebih buruk dari sebelum membunuh anakku!”.
“Dia belum berbentuk janin, baru segumpal darah dan belum bernyawa. Jadi tidak bisa disebut membunuh orang”.
“Kamu memang brengsek, mas. Bapak mana yang tega membunuh anaknya sendiri?”.
“Sudahlah, dia memang diciptakan untuk tidak dilahirkan didunia ini”.
“Begitu menurutmu?”.
“Ya. Main lagi yuk… aku kangen goyanganmu!”.
“Kamu gila?”.
“Ya, aku tergila-gila padamu”.
Setelah
itu aku melakukan juga apa yang diinginkan pacarku. Kemudian menjadi
sering melakukannya selayaknya rutinitas harian. Ternyata berhasil.
Yeah, aku bunting untuk kedua kalinya. Lagi-lagi pacarku ingin
menggugurkannya. Sementara aku bersikeras untuk melahirkannya.
Kami
bertengkar hebat. Saling maki, tampar, tendang, bahkan saling cekik. Aku
berteriak histeris ketika melihat pacarku tak bernyawa lagi. Dulu aku
membunuh bayi dalam rahimku, sekarang aku membunuh bapak dari bayi yang
kini kukandung. Kemudian tubuhku lunglai dan tak ingat lagi apa yang
terjadi setelah itu.
***
“bagaimana kondisinya, dok?”.
“Dia hamil, bu. Kandungannya lemah. Tapi yang lebih mengkhawatirkan, putri anda gila!”.
Mendengar itu, ibu pun terkejut dan pingsan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar