Teh arab



Oleh Mayshiza Widya*

Pak makmun pernah menjadi orang terpandang di kampungnya. Kata “Pernah” barangkali terasa ganjal, tapi memang demikian adanya. Dulu beliau adalah seorang kepala desa sekaligus tuan tanah yang sangat kaya dan memiliki banyak karyawan untuk dipekerjakan di perkebunannya yang berhektar-hektar.

Macet dan banjir; persoalan klise



Oleh Mayshiza Widya*

Kendaraan pribadi kini bukan lagi merupakan barang mewah, pasalnya hal itu sudah menjadi kebutuhan hidup masyarakat. Sehingga meledaknya permintaan pasar terhadap kendaraan pribadi seperti; mobil dan motor nyatanya memicu munculnya persoalan pelik di masyarakat yang sulit diurai. Kemacetan dikota-kota besar tak ayal nyaris terjadi setiap hari, terlebih di jam-jam sibuk seperti berangkat-pulang sekolah dan berangkat-pulang kerja.

Sadar Untuk Bertindak



Oleh Mayshiza Widya*

“… Serangan musuh dapat dilumpuhkan, namun tiada tentara yang mampu menahan sebuah ide yang tiba waktunya menyatakan diri” (Victor Hugo)
Kebutuhan kapitalisme saat ini akan tenaga kerja terlatih dalam jumlah besar merangsang adanya ekspansi universitas untuk mencetak “proletarisasi” tenaga intelektual yang tunduk kepada tuntutan-tuntutan kapitalis.

Magetan City: Mama Baru Buat Papa



Pagi ini tidak seperti biasanya, Rani tampak murung dan mengunci diri di kamar. Padahal biasanya dia akan meminta Mang Udin mengantarnya untuk jogging di senayan atau menyuruh Bik Iyem membuatkan perbekalan untuk piknik ke beberapa tempat wisata terdekat, seperti; kota tua, museum, taman mini, monas, ragunan, atau malah ke puncak. Kali ini ia hanya melewatkan akhir pekannya dengan nonton TV sambil mengunyah pop corn caramel favoritnya dikamar. Bik Iyem dengan ragu mengetuk pintu nona majikannya itu. Hendak menanyakan ada apa gerangan sedari pagi Rani tidak juga keluar dari kamarnya, padahal dia tahu betul bahwa Rani tergolong anak yang rajin dan suka bangun pagi.



Opini Kompas

Media ternyata menjadi biang keladinya

Maraknya berbagai media, baik cetak maupun elektronik yang menayangkan berita-berita seputar pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Ryan atau yang memiliki nama asli Very Idam Heniansyah di Jombang, Jawa Timur tak urung membuat kita bergidik ngeri. Bahkan juga menimbulkan tanda tanya besar dalam hati kecil; “Kenapa ya orang yang dikenal ramah, sopan, dan mempunyai latarbelakang religiusitas tinggi seperti itu bisa-bisanya melakukan aksi pembunuhan?”.


Kencan Pertama

 Cerpen Mayshiza Widya*

"Selamat malam, Ene! Gaunmu indah, kau tampak anggun", puji Gray di pesta dansa malam itu. Kami baru kenal lima menit yang lalu. Aku tersanjung, tersipu, wajahku sedikit memerah. Gray mengulurkan tangannya, dan aku menyambutnya dengan bangga. Digapitnya tanganku yang dingin di atas pundaknya, dan kedua tangan Gray melingkar di pinggangku. Kami bergoyang mengikuti alunan musik, ke kanan dan ke kiri. Dadanya yang lapang menyentuh lembut dadaku. Kurasakan detak jantungnya berhitung. Satu-satu. Bahkan aroma nafasnya menyerengak di hidungku.

Bunting

 Oleh : Mayshiza Widya

Ibu pernah bercerita tentang tetangga Bulek di kota yang bunting duluan sebelum menikah. Eh, hamil. Saat itu aku tak memberi komentar apa-apa, hanya tertawa sengit. Karena ekspresi itu bisa bermakna ganda. Kemungkinan pertama, aku dianggap menertawakan kebodohan mereka yang kecolongan. Kok bisa sih sidah banyak beredar “pengaman”, tapi tetep bocor juga.
Kemungkinan yang kedua, aku turut bahagia atas keberhasilan mereka memproduksi anak. He…he…he…