Oleh Mayshiza Widya*
Kasus
Lokalitas Mengalihkan Isu Nasional
Dan benar saja, uang telah menyulap kekritisan
menjadi sikap loyal yang bebal. Persoalan finansial masyarakat kian kompleks
dan seolah mengalami kebuntuan dalam penyelesaiannya. Perhatian masyarakat
terfokus pada beragamnya kasus lokalitas yang terjadi di berbagai daerah.
Misalnya, kecanggihan tekhnologi menjadikan youtube menjadi trend setter. Maka
tak heran muncullah gangnam style yang belum berhenti menjadi tranding topic di
komunitas jejaring social; twitter dan facebook. Bahkan video kampanye yang
sempat dibuat pendukung pasangan cagub dan cawagub jokowi-ahok tak kalah hangat
jadi buah bibir di infotainment. Kedua video kreatif itu tentu saja mengalahkan
video asusila Ariel Vs Luna dan Ariel Vs Cut tari yang juga diunggah di youtube.
Bahkan video lips sing shinta jojo membawakan lagu keong racun; Udin dan
lagunya Udin Sedunia; juga Norman kamaru
yang berjoget india bak badai yang telah berlalu, dan tak lagi terdengar
gaungnya.
Di kancah politik, masyarakat dibuat resah karena kasus pelanggarah
HAM yang menewaskan tiga orang WNI di Malaysia yang dituduh melakukan
merampokan, namun tak juga ada kejelasan mengenai berita dan sikap Negara terhadap
persoalan tersebut. Persoalan yang menyeret beberapa politisi partai democrat
yang kini sedang santer dibicarakan diberbagai media; perselisihan antara POLRI
dan KPK yang cukup menyita perhatian
public; harga sembako membumbung tinggi. Sedang para petani banyak yang
mengalami gagal panen akibat cuaca yang tak bersahabat. Di dunia fashion,
ramadhan melahirkan gaya busana baru dengan mempopularkan baju waka-waka dan
keong racun. Banjir di berbagai daerah dan jebolnya beberapa tanggul akibat
tidak mampu menampung debit air yang tinggi memunculkan keprihatinan yang
mendalam di benak masyarakat. Di tambah dengan hebohnya rekaman kubah terbang
di padang, seberkas cahaya yang dipercaya sebagai malaikat di atas ka’bah,
hujan darah di india, serta hujan ikan dan berudu di jepang.
Masyarakat
seperti dibenamkan dalam persoalannya masing-masing. Dan isu nasional yan g
jauh lebih penting untuk disoroti seolah tidak lagi menjadi buah bibir dalam
forum-forum. Suguhan berita yang lebih banyak dikonsumsi justru berita gosip
yang sumber beritanya “konon”, “dengar-dengar” dan “katanya”. Masyarakat
menjadi lupa dengan kebijakan-kebajakan Negara yang anti-rakyat. Mulai dari kenaikan tarif dasar
listrik (TDL), ditariknya subsidi atas pertamax, kasus mafia pajak gayus tambunan,
kinerja dewan perwakilan rakyat yang tidak maksimal, kerusuhan yang terjadi
akibat sengketa agraria, penjualan BUMN pada swasta, melemahnya regulasi yang
mengontrol perusahaan-perusahaan, penghapusan semua proteksi ekonomi melalui
bea cukai, pengesahan Undang-Undang yang kian memperparah kondisi rakyat,
seperti: Undang-Undang No. 25 tahun 2007 tentang penanaman modal yang
bertentangan dengan UUD 1945 pasal 2, pasal 6, dan pasal 7. UU No.7 tahun 2004
tentang sumber daya air, UU No.18 tahun 2004 tentang perkebunan, UU
pertambangan serta perpres No.36 tahun 2005 yang direvisi menjadi perpres No.65
tahun 2006 tentang pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk
kepentingan umum.
Harusnya usia kemerdekaan bangsa
Indonesia yang semakin matang menjadi cambuk bagi Negara untuk bisa
melaksanakan pembaharuan, perombakan dan pemulihan, serta penataan system demi
keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Sehingga Negara tidak
berfungsi sebagai simbolisasi pengukuhan adanya suatu bangsa yang merdeka,
melainkan mampu mengambil inisiatif untuk membangun struktur yang progresif
dalam mengatasi ketimpangan yang meminggirkan rakyat dari akses atas
penghidupan yang layak dan bermartabat.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar