Tokoh :


Mengenang Che; Revolusi Sampai Mati


”Kewajiban paling suci seorang pejuang, berjuang menentang imperialisme dimana pun ia berada”,

Itulah pesan yang selalu diajarkan oleh Ernesto ”che” guevara kepada orang-orang yang dijumpainya. Yang menyebabkan pula ia mampu bertanah dalam kelaparan untuk menunaikn kewajiban revolusinya. Baginya, manusia bukan seongkok perut. Ia percaya bahwa laparnya demi martabat yang membuat dirinya hidup terus dalam semangat seorang gerilyawan. Sebagaimana yang diungkapkannya;
”...perhatian pertama seorang gerilyawan bukanlah untuk menyelamatkan diri, tapi bagaimana mati secara terhormat. Setiap gerilyawan harus siap mati, bukan mempertahankan gagasan, tetapi mentransformasikannya dalam realitas. Setiap gerilyawan hrus menunjukkan upaya moral tanpa cela dan kontrol diri yang ketat... dia harus menjadi seorang yang asketik, dan harus selalu menolong petani secara teknis, ekonomis, moral, dan kultural.”
Moral gerilyawan itu barngkali yang membuat ’Che’ tidak betah duduk mapan di kursi kekuasaannya. Ini pulalah yang juga membuat jiwanya selalu gelisah menyaksikan proses penindasan yang dialami masyarakat Kuba. Dan sejak itu ia memutuskan untuk ke lapangan menyentuh secara lnngsung penderitaan rakyatnya. Ia pun menulis tentang chili:
”...rumah sakit sangat miskin, status sosial masyarakat chili sangat rendah. Chili sebenarnya bisa menjadi kota industri yang kuat...
Untuk mendapatkan itu, satu-satunya jalan adalah dengan merebut kembali ’yankee’, sebuah masalah besar. Jika mengingat kembali dollar yang terlibat”
Begitulah pengamatan getir seorang intelektual yang bersentuhan dengan kenyataan soaial. Korban-korban deras pembangunan yang keji itu ditemuinya dalam perjalanan. Che kemudian naik kendaraan bermotornya untuk menjumpai lapisan masyarakat yang cedera, sakit, dan tersingkir. Ia mahasiswa yang tak lgi percaya dengan bhuku dan ruang kuliah. Dan ia pun memilih berkelana mengelilingi Amerika Latin.
Che bukan seorang yang bebal, ia bahkan punya banyak kekasih. Cinta baginya adalah bayangan yang memberikan keyakinan, ilham, dan suntikan keberanian. Diantara kekasihnya yang selalu mendapat surat-surat darinya adalah Chichina. Seorang wanita yang aristokrat dan ia begitu terpesona dengan kepintaran che.  Cinta mereka membawa perbedakan dan asmara maut yang penuh bara nafsu. Karena perbedaan kelas sosial yang menyakitkan, che lebih memilih untuk mengakhiri hubungan itu. Dan perjalanan asmara yang berakhir luka ini diam-diam membulatkan kepribadian che untuk menjadi sosok yang memberi inspirasi kepada jutaan pemuda. Dalam suratnya pada Chichina, che menggariskan keyakinan:
”Aku tahu aku mencintaimu dan sangat mencintaimu, tetapi aku tidak bisa mengorbankan kebebasanku untukmu; Ini berarti mengorbankan diriku. Dan aku adalah hal yang paling penting di dunia ini, seperti yang pernah kukatakan padamu”.
Konsepsi ini yang memberikan keyakinan atas diri dan tugas sosialnya. Perjalanan yang ditempuhnya ke beberapa tempat mengungkit kesadarannya untuk melawan segala bentuk kekuasaan yng sewenang-wenang. Ia bersama sahabatnya, Alberto Granadamenyisiri Amerika Selatan dan Bolivia dan menjumpai kenyataan pahit yang kian menebalkan harapan che untuk melakukan perubahan dengan jalan revolusi.
Jalan makin benderang tatkala che bertemu dengan seseorang yang bernama Fidel Castro. Persahabatan membawa pemahaman akan arti kehidupan dan perjuangan sosial. Dibuangnya segala kehidupan mapan sebagai seorang mahasiswa kedokteran untuk bertemu dengan orang-orang yang sama-sama merasakan keresahan akibat dusta kapitalisme. Ia dan Castro mulai bertukar gagasan tentang cara untuk menjatuhkan pemimpin diktator, diantara sasarannya adalah Batista yang culas.
Delapan puluh dua orng pun kemudian bergabung untuk menumbangkan kekuasaan yang didukung oleh Amerika. Kisah-kisah dalam perang gerilya ini menjadi catatan panjang dan mendalam. Che dan Castro bekerja sama untuk perubahan melalui kerja-kerja lapangan yng keras. Bahkan seorang prajuritnya mengenang Che dengan mengucapkan:
”...dia adalah pria yang suka memimpin pertempuran dan memberi contoh. Che takkan pernah berkata ’pergi dan bertempurlah’, tetapi berkata ’ikutlah aku dan berperang’...”
ia mermang protipe cendikiawn pergerakan yang relasinya dibentuk langsung oleh pertemuan dengan massa. Demi kemenangan Kuba, ia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya dengan dihantam peluru oleh pasukan Bolivia di hutan belantara.  [widya]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar