Nama buku : The cashflow quadrant
Penulis : Robert T Kiosaki, Sharon L. Leachter. CPA
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 18, 2006
Tebal : viii + 330
Dan buku ini kemudian dipersembahkan oleh penulis sebagai terobosan baru
yang sekaligus membuka ruang sadar masyarakat bahwa setiap orang mempunyai
kesempatan yang sama untuk meraih mimpi menjadi orang kaya, tak terkecuali
dengan mereka yang gagal secara akademik. “Siapa yang tidak ingin menjadi
kaya?”, tentu saja tak ada seorangpun yang menginginkannya. Maka buku ini sengaja
dihadirkan di tengah-tengah problem kemasyarakatan yang kompleks dalam
urusan finansial sebagai salah satu alternatif paling jitu
membuat orang menjadi kaya raya. Tak pelak karena melihat kenyataan bahwa ada
banyak orang sukses yang justru drop out dari bangku sekolah dan tidak
memperoleh ijazah perguruan tinggi. Sebut saja, Thomas Edison, pendiri General
Electric; Bill Gates, pendiri Microsoft; Michail Dell, pendiri Dell computer;
Henry Ford, pendiri Ford Motor, dan masih banyak lagi. Dan ini cukup memberi motivasi
untuk masyarakat supaya tidak terjebak dengan pendidikan formal yang bagus dan
ijazah perguruan tinggi dengan IPK (Indeks Prestasi Komulatif) komlud semata,
karena ternyata ada banyak pula para sarjana lulusan universitas terkemuka yang
menggangur.
Yang dibutuhkan disini hanyalah tekad besar, kesediaan untuk cepat
belajar, keyakinan kuat untuk mengubah masa depan dengan menentukan strategi
tepat dalam memetakan langkah menjawab tantangan finansial, serta mengetahui
dari sektor cashflow quadrant mana seseorang dapat memperoleh penghasilannya. Menginginkan
keamanan finansial atau kebebasan finansial. Sehingga buku ini
mengklasifikasikan posisi seseorang dalam empat quadrant sesuai dengan sumber
pemasukannya. Setiap quadrant berbeda dalam memperoleh penghasilannya, bahkan
berbagai quadrant tersebut membutuhkan keterampilan dan kepribadian yang
berbeda pula. Dan mungkin akan ada banyak orang yang bertanya-tanya, dari
quadrant mana dirinya memperoleh sebagian besar penghasilannya. Sekalipun semua
orang berpotensi untuk memperoleh penghasilan dari keempat quadrant tersebut.
Dan sah-sah saja apabila seseorang hendak berpindah dari quadrant posisinya berdiri
hari ini ke quadrant yang diimpikan.
Dengan mengetahui ciri dan karakter yang berbeda di masing-masing
quadrant ini akan membantu untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang
quadrant mana yang paling cocok bagi seseorang. Yang mengandalkan slip gaji
teratur, tunjangan, dan keamanan pekerjaan termasuk dalam katagori Employee /
pegawai, yang kemudian diberikan simbol “E”. Seorang “E” mendapatkan uang
dengan mempunyai pekerjaan atau bekerja untuk orang lain. Ketidakpastian
membuat mereka tidak bahagia, sehingga rasa takut mereka dipuaskan dengan
derajat kepastian dalam mencari keamanan dan perjanjian yang mengikat dalam hal
pekerjaan.
Sementara yang lain, Self-Employed / pekerja lepas dengan simbol “S” merupakan
orang yang ingin menjadi bos bagi dirinya sendiri, mereka juga melakukan apa
saja yang mereka mau tanpa ada tekanan dari siapapun. Para “S” adalah seorang
perfeksionis sejati yang menamakan dirinya sebagai “kelompok-melakukan-sendiri”.
Sebutan ini karena mereka adalah sekelompok orang yang tidak suka jika
penghasilannya ditentukan oleh orang lain. Bagi mereka uang bukanlah hal yang
terpenting, tetapi kemandirian dan kesempatan untuk mengekspresikan individualitas
merekalah yang utama. Mereka ini
diantaranya adalah; dokter, konsultan, pengacara, agen perjalanan, dan artis.
Kedua kelompok individu ini menempati sisi kiri cashflow quadrant. Kaum
“E” dan “S” pada dasarnya merupakan orang yang berorientasi pada keamanan
finansial, itu sebabnya mereka mencari pekerjaan yang aman, carier yang aman,
memulai bisnis kecil yang bisa dikendalikan, serta menghindari resiko
finansial. Itu pula yang mengakibatkan orang yang menempati sisi kiri cashflow
quadrant ini bekerja seumur hidup untuk memperoleh uang.
Sedangkan kelompok lain ialah kelompok yang nyaris berlawanan dengan
seorang “S”. Mereka adalah kelompok quadrant dengan simbol “B” atau business
owner / pemilik usaha. Seorang “B” memiliki usaha yang menghasilkan uang, tanpa
perlu ikut bekerja. Mereka justru memilih agar dirinya dikelilingi oleh
orang-orang pandai untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tidak seperti “S” yang
tidak suka mendelegasikan pekerjaannya. Kelompok “B” ternyata lebih senang jika
pekerjaannya dapat diselesaikan oleh orang lain, sehingga mereka dapat
menggunakan waktunya untuk menciptakan sebuah sistem, bukan sebuah pekerjaan.
Quadrant terakhir yakni kelompok yang diberi simbol “I” atau investor /
penanam modal. Mereka membuat uang dengan uang, juga tak perlu bekerja keras
karena uanglah yang bekerja untuk mereka. Kelompok ini mengupayakan
pengembangan aset hingga mencapai titik dimana cashflow dari semua aset mereka
lebih besar dari biaya hidup yang ditanggung. Kelompok “I” mempunyai aset nyata
seperti real estate dan saham yang memberikan pemasukan pasif daripada
pengeluaran. Akan tetapi ada banyak orang yang merasa takut untuk berinvestasi,
dan kata “Resiko” merupakan alat legitimasi paling kuat yang membuat sebagian
orang mundur untuk memulai bisnisnya. Padahal quadrant “I” tidaklah seberbahaya
yang dibayangkan orang, hanya saja keterampilan untuk berhasil di quadrant “I”
ini membutuhkan kerangka berfikir yang berbeda dengan quandrant yang lain.
Banyak keterampilan diperlukan untuk berada disisi quadrant kanan,
menjadi kelompok “B” atau “I” yang lebih memilih kebebasan finansial daripada
keamanan finansial. Bagi kedua quadrant ini gagasan untuk “bersekolah dan
mencari pekerjaan yang aman dan menjamin” adalah gagasan bagus bagi orang
yang hidup di era industri, bukan di era informasi seperti sekarang ini.
Kecerdasan finansial yang dibutuhkan bukanlah seberapa banyak uang yang
dihasilkan, tapi seberapa banyak uang yang disimpan, seberapa keras uang itu
bekerja untuk seseorang, dan seberapa banyak generasi yang bisa dihidupi dengan
uang tersebut.
Buku ini juga menceritakan tentang keadaan seseorang yang tunawisma
hingga mencapai kebebasan finansial, maka tidaklah tepat apa yang sering
didengar orang bahwa “dibutuhkan uang untuk menghasilkan uang”. Seorang
tunawisma itu tidak membutuhkan uang untuk memulai, bahkan mempunyai banyak
hutang. Tidak dibutuhkan ijazah perguruan tinggi dengan IPK komlud, tetapi pada
akhirnya ia memproleh kebebasan finansial. Ia pun tak perlu bekerja lagi ketika
usia 47 tahun, karena uanglah yang kemudian bekerja untuknya. Hanya dengan satu
kalimat, “ambisi membangun bisnis, bukan rasa takut”.
The cashflow quadrant bukan bertindak seperti peramal yang mampu membaca
masa depan dan garis nasib seseorang, tetapi merupakan jawaban atas persoalan
finansial yang dihadapi masyarakat dewasa ini. Tulisan dalam buku ini banyak
mengajarkan untuk “melek secara finansial”, sehingga seseorang tidak
perlu bekerja seumur hidup untuk memperoleh uang, tetapi mempersiapkan diri
untuk memperoleh kebebasan finansial di usia yang ditentukan. Meskipun uang
bukanlah segalanya, tetapi sebagaimana pesan Robert T. Kiyosaki bahwa,
”bertanggungjawablah atas keuangan anda atau hanya menerima nasib sepanjang
hidup anda. Anda bisa menjadi
tuan atas uang atau budak uang. Terserah anda untuk memilihnya”. (widya)

ngak ada modal dari mana aku harus memulainya
BalasHapus