Oleh
Mayshiza Widya*
Berita di
TV, Koran, dan media elektronik seperti internet telah banyak mengungkap
berbagai fakta tentang sepak terjang pejabat Negara yang korup. Berbagai
persoalan perlahan namun pasti mencuat dimuka publik satu persatu.
Namun yang mengherankan, tidak ada perasaan malu sama sekali yang mereka tunjukkan sebagai wujud penyesalan karena telah berbuat lalim kepada rakyat.
Namun yang mengherankan, tidak ada perasaan malu sama sekali yang mereka tunjukkan sebagai wujud penyesalan karena telah berbuat lalim kepada rakyat.
Bahkan
seolah mereka telah lupa bahwa keberadaan mereka sebagai wakil rakyat harusnya
benar-benar terealisasi sebagai penyambung lidah rakyat, bukan sibuk menumpuk
kekayaan dan menunjukkan kerakusan serta ketamakan terhadap uang rakyat.
Sehingga slogan pro rakyat bukan rekayasa politik berkedok kampanye demi
kedudukan sebagai pejabat Negara semata.
Yang lebih
ironis, Justru mereka yang kasusnya terseret ke ranah hukum dan telah divonis
bersalah oleh pengadilan nyatanya justru berkoar didepan media bahwa merekalah
yang terzholimi, dikambinghitamkan, atau sengaja dijadikan tumbal untuk
menyelamatkan nama baik segelintir elite
yang tengah berkuasa sebagai peralihan isu, tentunya agar kasus tersebut tidak
merembet kemana-mana. Korupsi berantai dan melibatkan banyak oknum penegak hukum
dan pemerintahan itu meski sedikit samar namun akhirnya terbaca juga oleh
publik. Anggapan bahwa mereka akan mendapat simpati dari rakyat dengan retorika
yang terlontar lewat berbagai media justru membuat publik muak dan memendam
kebencian yang besar terhadap sikap kemunafikan yang mereka tunjukkan.
Tak pelak
kebusukan para elite politik membuat kondisi rakyat kian terpuruk. Sehingga
wajar jika mosi tidak percaya terhadap pemerintahan yang kini berkuasa
ditunjukkan dalam berbagai aksi demontrasi dan oto kritik oleh para pengamat
politik dan aktivis gerakan lewat media cetak maupun elektronik, pamphlet dan
selebaran. Tragisnya lagi, pemerintahan justru menyikapi kemarahan public ini
dengan kebijakan-kebijakannya yang semakin tak masuk akal, seperti; kenaikan
gaji kepala daerah. Padahal rakyat kian terbenam dalam polemic kebijakan Negara
yang makin tak manusiawi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar