Tulisan lawas 2009 [Di Stasiun Kereta]



Cerpen Mayshiza Widya*

Pkl 16.05. Masih hari sabtu. Di bawah pancaran senja yang melumer. Perempuan berwajah sendu itu duduk terpekur menunggu antrean tiket kereta api. Mudik ialah hal yang dinanti-nanti oleh orang perantauan sepertinya. Tapi mimik gusar itu justru menampakkan kegamangan dalam hati.
Wajah ayunya tampak pucat, tertutup oleh selembar kerudung berwarna jinga. Tubuhnya yang semampai hanya dibalut dengan kaos lengan panjang ketat dan rok span panjang. Tampilannya sederhana, tidak neko-neko, dan membawa kesan jauh dari gaya hidup glamour para remaja ibukota seusianya. Ekspresinya datar dan dingin. Sesekali diteguknya cairan dalam botol air mineral ditangannya. Mengelap wajahnya yang sedikit berminyak dengan tissue sambil mengunyah permen mint untuk mengusir gundah hatinya.
Masih terdiam mematung, matanya mencoba mengenali sekitar. Kasak-kusuk dimana-mana, sibuk dan sungguh semrawut. Kepalanya mendadak pening. Maka disandarkan punggungnya pada sandaran kursi besi yang mungkin usianya lebih tua darinya. Terlihat dari karatan, goresan dan catnya yang mengelupas. Beberapa detik dalam sandaran, tubuhnya mulai membaik. Maka hendak ditentengnya tas ransel yang sedari tadi diletakkan didekat betisnya itu, berdiri sejenak, kembali membaca kondisi sekitar, tapi kemudian duduk lagi. Hatinya kini bergejolak tak karuan, degupnya makin kencang, berkejar-kejaran atau entah melompat-lompat, yang pasti ia mampu mendengar detak jantungnya terpompa demikian keras.
Hatinya terusik oleh hilir mudiknya orang-orang yang melaluinya sepanjang ia duduk. Tampak olehnya wajah-wajah bahagia membayangkan betapa menyenangkannya menghabiskan liburan hari raya di kampung halaman, wajah-wajah merindu yang mengingat perjumpaan indah bersama orang-orang terkasih di kota seberang, wajah-wajah kecewa lantaran uang THR dibagikan tidak sesuai harapan. Dan kini ia pun berkaca pada wajahnya sendiri yang mengulum segurat luka karena tahun ini tak menghabiskan waktu bersama ayah-bunda, dan dua adik laki-lakinya. Padahal ia berjanji pada adik bungsunya akan membelikan sarung dan baju koko agar bisa ia pakai mengaji di langgar Usthad Alim. Ia pun berniat membawakan seperangkat buku dan alat tulis agar keduanya makin rajin belajar. Tapi musibah jebolnya situ gintung telah merenggut segala upaya yang dilakukannya untuk membahagiakan keluarga tercinta. Terbayang bagaimana keluarga dan sanak saudaranya menyambut maut tepat dini hari. Menyerahkan nyawanya pada Sang Terkasih dengan tiba-tiba dan tak terduga.
Dan tentu saja kenangan itu membuatnya menjadi tidak bergembira menyambut agenda mudik kali ini. Toh semuanya lenyap. Situ yang tadinya begitu indah karena dibangun sebagai arena jogging dan banyak dikunjungi orang, kini menjadi lautan yang meratakan rumah-rumah penduduk, bersimbah darah, dan berceceran mayat disana-sini. Itu kiranya yang terekam dalam benaknya saat mengenang tentang kejadian jebolnya situ gintung beberapa bulan silam.
Rasti, begitu nama sederhana disematkan sebagai panggilan untuknya. Ia menghela nafas dalam. Matanya menerobos kerumunan para pemudik yang berebut tiket di sepanjang antrean loket agar tak kehabisan tempat. Biasanya suasana mudik seperti ini jarang sekali orang bisa naik kereta api tanpa menggunakan tiket lantaran penuhnya gerbong. Ia melihat ada beberapa orang yang terpaksa membeli tiket dari para calo yang harganya relative lebih mahal.
Rasti masih belum mau beranjak dari duduknya, bau keringat bercampur dengan parfum murahan sempat menyeregap hidungnya, comberan dan telur busuk pun kontan lewat dipenciumannya bersamaan dengan hembusan angin sore itu. Perutnya seperti diaduk-aduk, mual dan mau muntah. Tapi ditahannya.
Masih tak bergeming, Rasti mengamati saja dari kejauhan bagaimana sibuknya penjual tissue, asinan, kacang rebus, wingko babat, lumpia, minuman dingin, bahkan loper koran yang mondar-mandir mencari pelanggan, menjajakan dagangannya, dan berharap ada yang berminat membeli agar bisa menyetorkan uang sesuai target. Tentunya mereka pun ingin meraup keuntungan yang lumayan dengan menaikkan harga dagangannya.
Lazimnya menjelang hari raya semua harga memang cenderung sengaja dinaikkan. Padahal gaji para pegawai dan buruh pabrik masih tetap sama, mengandalkan uang THR juga hanya cukup untuk membayar ongkos naik angkot saja.
“Ugh, keterlaluan,” desah Rasti. Entah pada para penjual itu, pada pemerintah yang mengeluarkan kebijakan tak mengenakkan, atau kepada Tuhan.
Kali ini pandangan mata Rasti tertuju pada suami istri yang menunggu kereta datang. Duduk diujung kursi besi dekat pintu masuk, Mereka membawa dua orang anak kecil. Usianya barangkali tidak terpaut jauh. Satu atau dua tahun saja. Seorang bocah duduk dipangkuan ayahnya sambil berceloteh riang dan menyanyikan lagu anak-anak naik kereta api sedang bocah yang lain menetek ibunya dan hampir saja tertidur. Begitu manjanya mereka berdua berada dalam dekap mesra kedua orangtuanya. Rasti tiba-tiba mengingat kembali masa kanak-kanaknya dulu, saat ia hendak menengok nenek yang sakit di kota gudek yang memendamkannya dalam riuh canda suka cita.
“Majalah, neng?” ujar seorang loper koran.
Kontan saja lamunan Rasti buyar seketika dan setengah teperanjat ia memandang laki-laki setengah baya disampingnya. Tengah duduk didekatnya entah sejak kapan. Yang ia sadari, laki-laki itu telah mengagetkannya.
Laki-laki yang bicara barusan pun hanya nyengir kuda melihat Rasti terlonjak karena ulahnya. Mata mereka beradu sekitar setengah detik, kemudian laki-laki itu mengulang ucapannya, “Majalah, neng?”
Rasti menatap lekat laki-laki dihadapannya. Setengah terpukau atau entah bagaimana, yang pasti laki-laki itu mengingatkannya pada sosok ayah yang pernah menimangnya dalam gendongan dulu. sewaktu kanak-kanak. Rambutnya memutih, dahinya yang seluas lapangan golf membuat laki-laki itu tampak kharismatik, kantung matanya hitam dan keriput di ujung matanya seolah mengisyaratkan bahwa ia telah berumur. Tidak bisa disebut muda, tapi juga belum terlalu tua benar. Tubuhnya yang masih perkasa terlihat dari otot-otot lengannya. Tangan kanannya mengulurkan sebuah majalah wanita, sedang tangan kirinya membawa tumpukan majalah dan Koran harian. Sesekali ia menghapus peluhnya dengan kaos oblong butut pemberian partai politik, tampak kumal dan sudah ada beberapa lubang di sekitar pundak dan ketiaknya.
“Neng…” ujar laki-laki itu lagi.
Rasti kemudian menggeleng pelan, menandakan bahwa ia tak berminat pada majalah yang ditawarkan tersebut. Masih tak bersuara, hanya matanya sesekali masih mengamati dengan jelas sosok disampingnya. Laki-laki itu tak memakai alas kaki persis seperti ayahnya kalau sedang mencangkul di ladang.
“Ugh…” ia mengambil nafas lalu menghembuskannya kuat-kuat. Kenangan-kenangan itu hanya akan membuat hatinya koyak-moyak.
“Memangnya hendak kemana neng, kok sedari tadi bapak amati duduk-duduk saja disini tidak ikut antri membeli tiket kereta atau barangkali sudah pesan ya?” tanya laki-laki itu dengan antusias, suaranya berat dan sedikit parau. Suara khas laki-laki. 
Kali ini Rasti tidak memberi jawaban apapun atau juga tak memberikan isyarat yang bisa dipahami laki-laki yang bertanya tersebut. Wajahnya hanya tampak makin murung dari sebelumnya. Kegundahan tersiar dari rona matanya yang memerah. Nyaris menitikkan air mata, tapi ditahan.
Seperti ada yang salah dengan pertanyaannya, laki-laki itu segera menjelaskan maksud pertanyaannya, “Maaf lho neng, saya hanya ingin tahu. Tidak bermaksud menggangu!” sergahnya.
Rasti kemudian menatap kembali laki-laki disampingnya itu. Dimatanya ada semburat cahaya kasih, tampak teduh dan hangat. “ia tak pantas dicurigai dan sepertinya ia orang yang baik,” batin Rasti.
Mungkin hanya nasibnya saja yang tidak beruntung, sehingga diusia yang seharusnya hanya perlu menikmati masa tua itu harus ia habiskan untuk mencari sesuap nasi dengan menjadi loper Koran dan majalah.
“Saya tidak punya kampung halaman, pak. Rumah saya hancur dan keluarga saya semuanya meninggal dunia dalam musibah jebolnya situ gintung,” ucap Rasti terbata-bata, kalimatnya terpenggal-penggal tidak karuan, tapi masih bisa didengar dan dimengerti ungkapannya.
Keduanya tampak diam membisu. Masing-masing bergulat dengan pemikirannya sendiri. Masih saja lengang, hanya suara-suara calo dan derap langkah terburu-buru para pemudik sempat bersliweran dipendengaran mereka. Masih belum ada yang mau memulai untuk bicara, keduanya menghela nafas dan menghembuskannya pelan. Seperti saling merasakan apa yang dirasakan yang lain. Sesak dan menghimpit rongga dada.
Sampai pada akhirnya laki-laki itu membuka mulut lagi, “Maaf neng, bapak tidak bermaksud membuat neng sedih. Ternyata kita senasib, neng,” ucapnya pelan tapi masih terdengar denngan jelas oleh Rasti.
Rasti menatap mata laki-laki itu dengan heran, seperti menanyakan maksud dan penjelasan dari pernyataan barusan. Tapi mulutnya masih saja diam terkatup.
“Bapak juga korban bencana Lumpur lapindo brantas. Rumah bapak tenggelam, istri dan kedua anak bapak meninggal dunia akibat keracunan asap dari letupan Lumpur. Sedang pemerintah dan perusahaan terkait tidak benar-benar membantu mengurangi beban para korban,” tukas laki-laki itu. Ia malah bercerita sendiri tentang tuntutan hidup yang begitu berat dijalaninya.
Rasti menampakkan empati yang dalam, dia tahu persis bagaimana rasanya dipisahkan dengan orang-orang tercinta, seperti ada sebagian dari tubuhnya yang hilang atau terampas secara paksa. Ada perasaan tak rela, tapi tak kuasa berbuat apa-apa.
”Jadi sekarang ini bapak tinggal sendiri?” tanya Rasti penuh iba.
Laki-laki itu tidak segera menjawab pertanyaannya, ia justru mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam akibat banyaknya bencana alam yang terjadi bergiliran dari waktu ke waktu sepanjang masa pemerintahan ini. Ia pun mengutuk Negara-negara adidaya yang menciptakan kekacauan akibat tekhnologi-tekhnologi canggih yang mereka hasilkan, namun mencelakakan separuh lebih penduduk bumi. Seperti; bolongnya lapisan ozon, global warming, mencairnya es dikutub utara, ketidakseimbangan ekosistem, bahkan juga munculnya berbagai macam penyakit berbahaya yang merenggut banyak nyawa akhir-akhir ini.
Sementara laki-laki itu terus bergumam meluapkan kegundahannya, Rasti bangkit dari duduk. Marapikan bajunya dan melingkarkan tali tasnya di kedua pundaknya. “Mau pulang neng?” tanya laki-laki itu kemudian.
“Kalau hari ini perjumpan kita karena koreng dalam hati bernama luka, mudah-mudahan kita dipertemukan lagi dalam situasi yang berbeda ya, pak,” harap Rasti,
Matanya menyala mengobarkan semangat yang tadinya memudar. Ia tak lagi ingin menangis. Maka dikumpulkannya tenaga untuk melangkahkan kaki meninggalkan stasiun kereta api. Dorongan untuk meninggalkan hiruk pikuk keramaian kota dan kembali ke kampung halamannya yang berubah menjadi kota mati diurungkannya. Bukan bermaksud hendak melupakan kenangan yang tergores indah tentang ayah-bunda dan kedua adiknya, tapi memulai hidup dengan menerima kenyataan bahwa mengharapkan mereka kembali adalah sia-sia. Yang mati akan tetap mati bagaimana pun caranya diratapi. Jadi kenapa ia tak segera membangun mimpinya yang baru. Barangkali dengan cara mencari jodoh yang tepat kemudian menikah, atau menyimpan uang dengan cara menabung dan berinvestasi untuk masa depan dengan membuka usaha sendiri.
Gemerletak alas sepatu yang beradu dengan lantai mengiringi kepulangan Rasti. Pulang bukan sebagai pecundang yang kalah tanding, tapi sebagai pemberani yang menerima kenyataan pahit yang mendera hidupnya dengan lapang dada. Rasti tak menghiraukan asap yang mengepul di balik cerobong-cerobong kereta yang dikendalikan lajunya oleh masinis, pun suara mendesis gesekan roda dengan rel yang penuh gairah menyorakkan keikhlasan untuk mengantarkan para penumpang yang berjubel dalam gerbong agar sampai ke tepat tujuan dengan selamat. Ia juga tak berminat lagi mengamati kereta yang umurnya telah tua dan jalannya kian lamban tapi tak menyurutkan orang-orang untuk menaikinya. Rasti justru memilih meninggalkan stasiun dan naik metromini.
Menyambut hari raya di kota seolah merupakan keputusan Rasti yang lebih tepat. Ia akan mengobati memar hatinya yang berdarah-darah akibat menyaksikan bekunya tubuh orang-orang yang dicintainya, menyulut kembali energi hidup agar bernafas panjang dalam episode perjalanan kisahnya, pun merajut secuil asa dalam perangnya mengusir rasa sendiri. Kost yang lengang karena ditinggal banyak penghuninya menjadi pilihan terbaik untuk memulihkan kerapuhannya. Bagi Rasti mmenyambut lebaran dimanapun akan bernilai sama, bukankah hakikat hari raya adalah menyambut hari kemenangan? dan kini Rasti telah menang melawan rasa sakit yang menghadirkan luka dihatinya. Karena ia yakin Tuhan selalu mempunyai rencana yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar