Tulisan lawas - Ariel : Symbol Tindak Kekerasan Terselubung



Oleh Mayshiza Widya*

“Jika karena kelamin
dan payudara yang mengembang
kita dinistakan
Kenapa tak kita tuntut saja Tuhan”
Puisi Yunis Kartika yang berjudul “Tuntut saja, Tuhan” ini merupakan ungkapan kepedihan perempuan akibat ketidakdilan gender. 

Posisi perempuan seolah tidak pernah lepas dari beban hidup sebagai objek yang dieksploitasi. Tengok saja, hampir semua produk iklan menggunakan perempuan sebagai daya pikat konsumennya. Mulai dari produk kecantikan, makanan dan minuman ringan, obat-obatan, bahkan barang konsumsi khas laki-laki pun diiklankan menggunakan perempuan agar mempunyai nilai jual tinggi, seperti: alat kontrasepsi, merk pelumas kendaraan bermotor, atau obat kuat pria. Tak ayal perempuan memang seperti hipnotis yang mampu mendongkrak keberhasilan produsen dalam mempromosikan produknya, sehingga muncul konsepsi baru dalam paradigma masyarakat terkait tentang merebaknya isu gender dewasa ini.
Tidak hanya itu, jenis pekerjaan kasar juga tak kurang-kurang menggunakan jasa seorang perempuan. Seperti; pembantu rumah tangga, buruh pabrik, pelayan restoran, office girl, bengkel cuci mobil, bahkan sopir bus antar kota. Wacana gender seolah menjadi upaya pertanggungjawaban atas perubahan sejarah perempuan dan dianggap sebagai suatu budaya yang semestinya diterapkan dalam masyarakat untuk menolak keterkungkungan perempuan yang selalu diidentikkan sebagai konco wingking. Pembagian kerja dalam bentuk tugas rumah tangga bagi perempuan di era informasi semacam ini juga hanya dimaknai sebagai mitos yang tak layak didengar dan perlu dibongkar, serta ditafsirkan kembali sebagai pemberontakan ketidakadilan gender.
Sementara kaum perempuan sibuk untuk memerdekakan diri, para laki-laki justru menanggapi isu gender sebagai sesuatu yang biasa. Bahkan ada kesan mereka cukup diuntungkan dengan berbondong-bondongnya para perempuan untuk meniti karier. Terlebih sistem kapitalisme memaksa manusia untuk mencari yang paling laku di pasar industri. Hal ini tentunya tidak dilewatkan begitu saja, sehingga malah disambut dengan gegap gempita. Tak ayal berbagai event pun sengaja digelar untuk memilih perempuan mana yang paling cantik, berbakat, dan layak melakukan pekerjaan public untuk kepentingan pemodal. Sebut saja, Miss universe. Miss Warld, Putri Indonesia, bahkan belakangan banyak ajang kompetisi adu bakat yang memberi kesempatan bagi perempuan untuk mereguk uang dalam waktu yang singkat. Pola fakir instant inilah yang kemudian mengintervensi perempuan untuk memilih kehidupan mereka sendiri menurut kesenangannya masing-masing. Padahal dibalik itu semua ada konsekunsi logis yang harus mereka pertanggungjawabkan.

Wacana kesetaraan gender yang keliru
Dominasi melalui wacana memang menentukan dalam memdifinisikan pengorganisiran masyarakat dan pembagian kerja. Dan aktivitas public untuk laki-laki pun tidak menutup kemungkinan mampu dikerjakan pula oleh seorang perempuan. Sebagian fakta sejarah dirubah melalui struktur sosio-budaya dan pengorgaisasian masyarakat. Oleh karenanya, tak sedikit seorang istri yang mengatakan bahwa suaminya setuju-setuju saja dia meneruskan karier. Toh pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak sudah diserahkan kepada pembantu dan baby sitter. Perempuan kemudian mengharapkan profesi yang digelutinya itu mampu mencapai pemenuhan diri, sehingga perlakuan yang adil dalam wacana kesetaraan gender kemudian diterjemahkan sebagai perjuangan pemenuhan hak-hak perempuan dalam pekerjaan.
Terlebih kondisi masyarakat dewasa ini telah menjungkirbalikkan siklus hidup laki-laki dan perempuan. Kini lapangan pekerjaan telah banyak dibuka bagi kaum hawa, maka tak mengherankan jika logika terbalik perempuan bekerja dan laki-laki mengurus anak menjadi pemandangan yang tidak tabu lagi. Perempuan banyak dipekerjakan sebagai tenaga kerja wanita (TKW) ke luar negeri, Dan yang lebih mengherankan, semua hal yang terkait dengan kata “Luar negeri” tampak begitu menggiurkan bagi masyarakat Indonesia. Padahal tak sedikit diantara perempuan-perempuan itu yang dikirim ke luar negeri bukan melalui agen penyalur tenaga kerja resmi. Perempuan-perempuan itu banyak yang dijual sebagai wanita penghibur di club-club malam, di rumah-rumah bordil, menjadi pembantu rumah tangga yang ditiduri oleh majikannya sendiri, menjadi pekerja pabrik yang tenaganya dikuras untuk bekerja lebih dari delapan jam sehari, dan tindak kekerasan lain yang mungkin saja terjadi pada kaum yang lemah tersebut. Baik secara fisik maupun secara mental.

Belajar Dari Manohara
Kasus Manohara Audelia Pinot yang dipinang pangeran dari kerajaan Kelantan Malaysia -Teuku Fahri- yang nasibnya tak beruntung karena tindak penganiayaan yang menimpa dirinya ini seharusnya bisa menjadi pelajaran berharga bagi perempuan Indonesia. Iming-iming jenjang karier, gaya hidup mewah, juga hasrat ingin keluar dari kungkungan agar mempunyai hak di ruang public layaknya laki-laki tampaknya mesti ditimbang benar dampaknya. Bukan bermaksud menolak wacana kesetaraan gender akan tetapi mencegah perempuan agar tidak terjebak ke dalam perangkap wacana laki-laki yang punya potensi tidak bebas nilai dan selalu membawa kepentingan tersebut.
Persoalan yang diekspose secara berlebihan dari kasus Manohara terlihat ada unsur politis didalamnya. Entah karena tergiur untuk popular dengan cara cepat atau memang ada kepentingan lain tekait dengan suhu politik di Kerajaan Kelantan, yang pasti tampak jelas sekali bahwa dalam hal ini pun Manohara begitu dieksploitasi untuk kepentingan-kepentingan tersebut. Dan benar saja, media cetak dan elektronik berlomba-lomba mencuatkan berita kontroversi Manohara tersebut yang kemudian berakhir dengan opini public bahwa Manohara mendapat tindak kekerasan dalam rumah tangga yakni penganiayaan. Maka kontan saja, banyak simpati yang menoleh kepadanya.. Terlebih yang menjadi nilai jual kasus ini ialah karena melibatkan para bangsawan Malaysia.
Oleh karena itu, perlu kiranya masyarakat lebih selektif terhadap perbendaharaan kata dalam logika yang mengasumsikan bahwa superioritas hanya diberikan kepada laki-laki sebagai pembenaran posisi agar mampu mendominasi karena munculnya berbagai fenomena baru yang ditandai dengan meningkatnya tindak kekerasan terhadap perempuan, hal ini tentunya dipengaruhi pula oleh gejala semakin menipisnya nilai dan keyakinan masyarakat akan arti pentingnya perempuan dalam rumah tangga. Ketidaksetaraan gender memang melahirkan ketidakadilan gender. Yang dikorbankan dalam hal ini pun bukan hanya perempuan, akan tetapi juga anak-anak yang persoalan sosialnya kian kompleks -seperti; keliru memilih pergaulan, terperangkap ke lembah hitam, menjadi korban penggunaan obat haram, anak yang terpaksa dilacurkan, dan anak yang sehari-hari hidupnya melulu uring-uringan karena kenakalan remaja- sedangkan ibunya cenderung lebih suka menghabiskan waktunya di luar ketimbang mengurus anak dirumah. Bukankah jika sudah demikian, perempuan justru melupakan fitrahnya sebagai seorang ibu? Padahal semua kaum, baik laki-laki dan perempuan sepakat bahwa posisi perempuan sebagai seorang ibu ini menduduki tempat yang paling mulia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar